Kematian Memang Misteri, Kapan Waktunya Namun Pasti Kedatangannya
Kematian Memang Misteri, Kapan Waktunya Namun Pasti Kedatangannya
. IlustrasiNuansamedianews.com - Kematian tidak memandang umur, tua dan muda bisa menemui ajalnya. Kematian memang misteri kapan waktunya namun pasti kedatangannya, dan pada akhirnya manusia tak berdaya lalu mengakui segala kekurangan dan keterbatasannya.
Kepergian ruh membuat badan tak berdaya dan kemudian hancur-lebur menjadi tanah. Allah SWT berfirman:
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS Thaha [20]: 55).
Bumi ini hanyalah persinggahan, tempat mengukir amal-amal sebagai bekal menuju alam akhirat.
Kematian berarti perjalanan pulang atau kembali kepada asal, yaitu Allah SWT. Karena itu, kalau ada berita kematian, kita baiknya membaca istirja’, Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji’un (QS Al-Baqarah [2]: 156).
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"”
Sementara itu, di dunia ini, menurut al-Ghazali, tak ada yang pasti, kecuali kematian.
Akan tetapi, waktu yang dihabiskan manusia justru bisa mengukir dosa-dosa atau malah mengikis amal-amalnya, dunia yang gemerlap dan sangat mengoda ini, bisa membuat manusia lupa, sehingga umur yang seharusnya digunakan mengukir amal dan meraih pahala, justru disia-siakan.
Namun, manusia tak pernah siap menghadapi maut dan cenderung lari darinya.
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ
"Sesungguhnya, kematian yang kamu lari daripadanya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (QS Al-Jumu’ah)
Tentu saja bagi orang-orang beriman atau orang-orang yang shaleh, benar-benar memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Dan karena itulah orang-orang beriman memahami dan mengaplikasikan makna shalat wajib yang sudah ditentukan waktunya dengan kedisiplinan menggunakan waktu. Dari keselarasan ini mereka berusaha tidak termasuk dalam kategori manusia yang merugi, seperti yang disinggung dalam surah Al-'Asr ayat 2, bahwa sungguh manusia benar-benar dalam kerugiaan.
Maka apakah umur panjang itu sangat penting atau berguna jika seumur hidup banyak berbuat dosa? Tentu saja tidak. Sehingga mungkin sangat beruntung anak-anak yang masih mungil, yang belum terkena kewajiban syariat, yang belum mengetahui atau memahami hingar bingar dunia ini, lalu dipanggil Tuhan. Anak-anak mungil ini bisa jadi adalah para bidadara-bidadari yang menghuni surga dengan riang gembira.
Bagi al-Ghazali, kematian tidak bermakna tiadanya hidup (nafi al-hayah), tetapi perubahan keadaan (taghayyur hal). Dengan kematian, hidup bukan tidak ada, melainkan bertransformasi dalam bentuknya yang lebih sempurna. Diakui, banyak orang semasa hidup mereka tertidur (tak memiliki kesadaran), tetapi justru setelah kematian, meraka bangun (hidup). Al-Nas niyam, fa idza matu intabihu,” demikian kata Imam Ali.
(Editor (Marthagon)
Posting Komentar